Cara untuk mengurangi subjektivitas dan bias

KilasRingkas Jan 02, 2022

Saat kamu mengerjakan proyek baru, apa yang lebih penting daripada memilih fitur yang tepat untuk dikembangkan?

Terkadang sebuah tim menggunakan metode pengambilan keputusan modern dan melakukan semua ritual untuk berpikir desain untuk problem solving, tetapi hasilnya tetap menerka-nerka.

The Deafening Silence
Photo by Noah Buscher / Unsplash

Bener ga yo? wes cocok a iki? kudune seh iso

Pertanyaan tersebut lalu-lalang muncul dalam pikiran tim design. sama halnya developer mencoba sesuatu dengan trial dan error. Apakah itu salah?. TIDAK.

Kemudian apakah ada solusi untuk itu? saya ingat petuah manis dari Gargantuar.

"Coba kamu list prioritas fitur berhasil atau gagal karena satu hal kecil, dan faktor kuncinya adalah kriteria seleksi."

Legit mengigit bukan sarannya, Mari kita lihat apa yang bisa salah, lalu kita akan membahas cara-cara untuk mengurangi risiko tersebut.

Ada beberapa cara menurut Slava Shestopalov, beliau bukan filsuf melainkan designer dari ukraina. Namun hamba hanya share satu metode yang mungkin bisa jadi solusi untuk kalian. Dan kita akan belajar bersama dari pengalaman om slava ini.

Tantangan Non-Expert dan Expert memiliki hak suara yang sama

Tim product berusaha keras untuk membuat trade-off yang tepat dan mengawinkan opsi dalam jumlah tak terbatas dengan sumber daya terbatas. Biasanya, keputusan muncul sebagai hasil dari aktivitas kolaboratif, seperti voting dots.

Meskipun teknik ini ditemukan oleh orang yang berbeda, pada dasarnya mereka bekerja dengan cara yang sama. Ini sama seperti halnya melalui interpretasi saya metode ux rata-rata yang diambil oleh mahasiswa, hasil adaptasi dari design thinking.Oke lanjut tadi, dari voting dots mereka akan mereka voting dan menyusunnya di sepanjang sumbu menurut kelayakan, keinginan, atau inovasi setiap fitur.

Dari voting seperti diatas terkadang hasilnya tidak sesuai ekspetasi. Voting dots sendiri banyak metodenya seperti the value-versus-feasibility canvas, MoSCoW, the Kano model dan sebagainya. Kendalanya adalah warna dots itu rata-rata sama.

Hasilnya,

Akhirnya hasil keputusan tetap bias sering kali kita temukan. Setelah hamba membaca artikel dari om slava, menemukan metode “Diversified votes” atau suara yang beragam. Kenapa memilih voting seperti ini?. Alasannya adalah selain dari segi warna berbeda para stakeholder dapat dengan mudah menjelaskan kendala sesuai bidang masing-masing. Jadi kita dapat mengukur kelayakan sebuah produk aplikasi digital yang kita buat.

Singkatnya,

  • Ide: Beri stakeholder dengan keahlian yang berbeda titik-titik dengan warna berbeda.
  • Kelebihan: Ini mempersempit jumlah ide akhir, stakeholder dapat memperhitungkan baik jumlah suara maupun keseimbangan berbagai keuntungan; dan tetap menjadi latihan yang cepat dan sederhana.
  • Keterbatasan: Masih belum sepenuhnya menghilangkan subjektivitas.

Oke mungkin itu dulu semoga bermanfaat dan terima kasih!

Source lukisan dan postingan dan gambar dari:

Feature Prioritizing: Ways To Reduce Subjectivity And Bias — Smashing Magazine
When you’re working on a new project, what is more crucial than choosing the right features to develop? However, the exercise often turns into a spectacle of team voting. As a result, decisions change many times down the road. Let’s talk about the pitfalls of popular prioritization techniques and ap…
Feature prioritizing: 3 ways to reduce subjectivity and bias
When you’re working on a product, what is more crucial than choosing the right features to develop? However, the exercise often turns into a spectacle of team voting. As a result, decisions change…
Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.